Sumber Sumber Penulisan


Sumber-sumber Penulisan

SUMBER-sumber ide untuk penulisan fiksi, entah itu cerita pendek atau novel, begitu tak terbatas. Salah satu sumber yang cukup penting untuk itu, misalnya, pengalaman pribadi seorang penulis.

 

Pengalaman Pribadi

Pengalaman pribadi tentu saja bukan sebuah fiksi. Ia sumber inspirasi yang bisa diolah ke dalam kenyataan fiksional. Novel-novel dan cerita pendek Hemingway sebagian besar bermula dari pengalaman pribadinya. Pengalamannya dalam Perang Dunia I di front Italia melahirkan A Farewell to Arms (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pertempuran Penghabisan), lalu pengalamannya dalam perang sipil di Spanyol memberinya inspirasi untuk menulis novel For Whom the Bell Tolls.

To Kill a Mockingbird, novel pertama Harper Lee yang kemudian meraih Hadiah Pulitzer untuk sastra, juga berdasarkan pengalaman masa kecil penulisnya di kota kecil di wilayah Selatan Amerika. David Copperfields juga disebut-sebut sebagai versi fiksi dari masa kanak-kanak Charles Dickens.

Di Indonesia, novel pertama Y.B. Mangunwijaya, Romo Rahadi (di novel ini ia menggunakan nama Y. Wastuwijaya), tampaknya juga bersumber dari pengalaman pribadinya tatkala ia memilih jalan menjadi pastor.  Banyak karya pertama dari para novelis terkemuka yang sumber inspirasinya adalah pengalaman pribadi mereka.

 

Sepenggal peristiwa dalam kehidupan pribadi seseorang

Sepenggal peristiwa yang pernah dialami oleh seseorang juga bisa menjadi sumber inspirasi untuk penulisan fiksi. John Steinbeck pernah bekerja sebagai ahli biologi kelautan di bagian selatan California. Dalam kurun waktu itu, ia akrab dengan kehidupan orang-orang miskin yang sehari-harinya menjadi penyelam mutiara. Ia tidak pernah menjumpai seorang pencari mutiara yang menemukan mutiara tak ternilai harganya, tapi ia menemukan gagasan: apa yang akan terjadi jika salah seorang dari mereka benar-benar menemukan mutiara seperti itu? Dari situlah ia menggarap novel pendeknya The Pearl.

John Le Carré (nama pena David Cornwell) adalah anggota dari Dinas Rahasia Kerajaan Inggris dan pernah bertugas di kementrian luar negeri Inggris. Mungkin ia tidak pernah bertemu dengan agen rahasia Inggris yang berpura-pura menyeberang ke blok Timur. Tapi ia membayangkan apa yang akan terjadi sekiranya agen rahasia Inggris melakukan hal itu. Gagasan ini muncul dari pengalaman pribadi yang memberinya inspirasi untuk menulis The Spy Who Came in from the Cold.

Kesimpulan filosofis yang ditarik dari pengalaman pribadi

Dari pengalaman pribadinya Henry Fielding meyakinkan diri bahwa manusia sering gagal menemukan kebaikan dalam diri orang-orang lain. Ia kemudian menggunakan seorang anak yang lahir di luar ikatan pernikahan sebagai tokoh untuk menuliskan sebuah novel yang bermula dari keyakinan filosofisnya itu. Novel yang ia tulis adalah Tom Jones.

Kejadian yang didengar atau dilihat

Sommerset Maugham mendengar tentang kehidupan pelukis Perancis, Gauguin, di pelosok Pasifik Selatan, dan itu memberinya ide untuk menulis The Moon and Sixpence.

***

Sumber-sumber lain di samping pengalaman pribadi, yang bisa diolah menjadi cerita fiksi, masih tak terhingga jumlahnya. Beberapa contah di antaranya:

Sejarah

Seorang pengarang mungkin tertarik pada sebuah karakter penting dalam sejarah dan mencoba melakukan rekonstruksi fiksional atas kisah tokoh tersebut. The Agony and the Ecstasy oleh Irving Stone adalah sebuah contoh untuk fiksi yang berangkat dari kisah hidup tokoh dalam sejarah. Selain itu, seseorang mungkin begitu terpukau pada sepenggal kurun waktu dalam sejarah dan menulis novelnya dengan latar kurun waktu itu, seperti misalnya Margaret Mitchell (Gone with the Wind).

Kisah-kisah dalam Kitab Injil juga sering menjadi sumber inspirasi bagi pengarang-pengarang Barat untuk sebuah novel. Sebagaimana pengalaman pribadi berbeda dari sebuah fiksi, peristiwa sejarah pun berbeda dari novel sejarah. Novel sejarah, bagaimanapun, adalah sebuah fiksi dan bukan sejarah. Secara umum, novel sejarah berisi sebagian kecil fakta dan sebagian lainnya fiksi, pengarang mengolah peristiwa sejarah dan menambahkan karakter-karakter fiktif di dalamnya.

Obrolan dengan orang lain

Ketika bertemu dengan Gustave Flaubert, Louis Bouilhet menyarankan kepada sang penulis itu untuk menulis novel tentang istri dokter Norman yang bunuh diri. Novel yang kemudian ditulis oleh Flaubert berjudul Madame Bovary.

Perlawanan terhadap sesuatu

Contoh klasik untuk ini adalah novel The Adventure of Huckleberry Finn oleh Mark Twain, sebuah novel yang menghujat perbudakan.

Dukungan terhadap sesuatu

Harriet Beecher Stowe memiliki keinginan kuat terhadap penghapusan perbudakan. Keinginan ini memberinya inspirasi untuk novel Uncle Tom’s Cabin.

Peristiwa-peristiwa yang ditulis koran-koran

Contoh klasiknya adalah Robinson Crusoe yang ditulis oleh Defoe. Novel ini diilhami oleh laporan di sebuah koran berjudul An American Tragedie, ditulis oleh Theodore Dreiser.

Peristiwa yang terjadi secara kebetulan

Sebuah insiden kebetulan seringkali memercikkan ilham bagi penulisan fiksi. Tidak peduli apakah insiden itu nyata atau imajiner. Yang penting adalah bahwa ia menyentil fikiran seorang penulis. Sebuah peristiwa imajiner tiba-tiba berkelebat dalam fikiran Graham Greene, yakni gagasan tentang seorang asing yang tiba di koloni para penderita lepra. Peristiwa imajiner ini menjadi ide dasar untuk novelnya Burn-Out Case.

Joseph Conrad menyebutkan sejumlah insiden tak sengaja, beberapa di antaranya berlangsung hanya beberapa saat, di mana ia menemukan sejumlah besar karakter untuk novelnya, Victory, dan insiden-insiden ini secara bersama-sama kemudian membangun landasan cerita untuk novel tersebut.

Karena itu buku catatan kecil adalah perangkat penting bagi seorang penulis untuk merekam kelebatan peristiwa-peristiwa, apakah itu nyata atau imajiner.

Hasrat yang menyala-nyala untuk melakukan petualangan

Banyak novel petualangan lahir dari hasrat seperti ini, juga cerita-cerita misteri dan fiksi ilmiah yang terus-menerus ditulis.

Perubahan sikap dan kebiasaan dalam masyarakat

Perubahan pandangan dan perilaku terhadap seks, misalnya, dan tak adanya lagi sensor yang ketat terhadap gagasan telah melahirkan banyak novel dengan tema-tema seks yang sebelumnya tabu dipublikasikan. Demikian juga banyak lahir novel-novel yang mengangkaat tema homoseksualitas dan lesbianisme. Contoh-contoh untuk novel-novel jenis ini adalah Myra Breckenridge karangan Gore Vidal (ia juga penulis skenario untuk film Caligula, yang melukiskan kegilaan seksual dan kekejian raja Caligula, namun karena kecewa terhadap penggarapan film itu ia kemudian menolak dicantumkan keterlibatannya dalam film itu) dan The Crazy Ladies karangan Joyce Elbert.

Gejolak sosial politik

Banyak sekali cerita pendek dan novel yang lahir dengan gejolak sosial politik sebagai sumber inspirasinya. Novel-novel dan cerpen-cerpen Nadine Gordimer lahir dalam situasi seperti ini dan mengambil inspirasinya dari pergolakan sosial dan politik di Afrika Selatan. Novel-novel James Baldwin, Back Seat in the Bus dan Another Country, lahir dengan subjek orang-orang kulit hitam Amerika yang melakukan perlawanan demi persamaan hak dengan orang-orang kulit putih. Di samping itu, perang juga selalu menjadi sumber ide untuk berbagai novel bahkan sekalipun pengarangnya tidak terlibat dalam perang tersebut. Contoh untuk ini adalah War and Peace-nya Leo Tolstoy dan The Red Badge of Courage karangan Stephen Crane.

Minat yang kuat terhadap dunia bisnis juga bisa menjadi sumber gagasan. Contohnya adalah novel-novel Arthur Hailey, Hotel dan Airport. Bahkan penyakit juga menjadi sumber penulisan novel. Contoh yang bagus untuk itu adalah Love Story karangan Erich Segal, yang mengisahkan tentang seorang istri yang menderita leukemia.

Pendeknya, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, dan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia, adalah sumber inspirasi bagi penulisan novel. Jadi, jika tiap hari anda mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan ide, sebaiknya anda merevisi keinginan untuk menulis novel atau cerita pendek. Sebab dengan segala yang ada di muka bumi, dengan segala lalu lalang kejadian, yang kita alami sendiri maupun yang kita dengar atau kita baca, untuk mengeluhkan betapa sulitnya memperoleh gagasan adalah sebuah kecengengan. Dan tampaknya dunia penciptaan bukan tempat yang ramah bagi setiap jenis kecengengan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s