Saya Akan Bunuh Diri Jika Tak Dapat Memilikimu


Jika Nietze menyatakan Tuhan sudah mati sehingga hatimu marah

Mengapa kamu menolak pernyataan cinta saya yang murni dari hati

Jika Marx memperjuangkan masyarakat tanpa kelas yang hanya hayalan itu

Mengapa kamu begitu kaget dengan perjuangan cinta saya yang nyata ini

Jika Plato harus membawamu pergi dari alam ini untuk mencapai hakikat cinta

Saya akan menunjukkan hakikat cinta itu di depan matamu saat ini juga

Jika Aristoteles hanya memberimu cinta yang logis

Saya akan memberimu lebih dalam dari sekedar logis atau ilogis

Pandangan dunia  seringkali berpengaruh pada prilaku, keyakinan, tindakan, dan kehidupan pribadi saya sebagai manusia yang mempersepsi dunia ini. Jika ada yang berpandangan bahwa yang paling prinsip di dunia ini adalah materi maka dalam tindakannya menyampingkan bahkan menolak hal-hal yang berbau gaib, metafisika, non materi atau non ilmiah.

Dalam alam ontologi, para filusuf mengajak saya untuk menjelajah sebagaimana yang dilakukan Descartes atau Camus.  Mencari apa sebenarnya yang hakiki, yang prinsip atau yang eksistensial di dunia ini? Terkadang di pagi hari, saya membuka mata saya  ketika bangun tidur, seketika itu juga tumpukan pekerjaan, tugas dan aktifitas ada di depan mata saya. Dengan kesibukan yang padat, sehari terasa begitu pendek dan akhirnya bertemu jam 10 malam lagi. Tidur, bangun dan begitu seterusnya. Saya nyaris lupa dengan diri saya, saya lupa bertanya hakikat diri saya sebenarnya, saya lupa bertanya pada diri saya bahwa kita akan ke mana, dan apa yang sebenarnya kita cari?

Jika uang yang dicari, cobalah tanyakan orang-orang kaya, apakah setiap dari mereka mendapatkan kebahagiaan dengan uang yang banyak itu. Tapi mengapa saya masih memandang mulia orang kaya dari pada orang miskin. Berarti saya masih memandang materi itu sebagai hal yang sempurna atau prinsip. Ataukah dunia ini tidak mempunyai maksud dan tujuan? Sehingga saya melihat langit kosong dari perasaan, rasa dan kekuasaan suci. Tidak ada hukum yang inheren dan tidak ada tertib dalam alam ini. Lalu untuk apa saya hidup?  Dunia ini memang tempat orang-orang gila alias rumah idiot.

Bila ada orang berpandangan bahwa tidak ada kekuasaan suci di balik ini semua, maka apa yang baik dan buruk akan tidak memiliki batas jelas. Apa yang baik tergantung bagaimana ia dapat menyenangkan kehidupannya. Sasaran yang selalu  mengejar kenikmatan hidup akan selalu terdordorong untuk mengukur kehidupannya, tindakan-tindakannya dan hubungan sosialnya dengan ukuran kenikmatan. Jika saya tidak mampu mencapai sasaran itu tapi  hanya derita, perih, sakit hati, kesengsaraan, yang saya dapatkan maka hidup saya menjadi berantakan tanpa arti lagi. Dan mengakhiri hidup adalah jalan keluar untuk mengakhiri semuanya.

“Jika saya tidak memilikimu, lebih baik saya mengakhiri hidup saya ini..” begitulah kira-kira ekspresi yang keluar dari perasaan absurd yang tidak bisa lagi membedakan antara bunuh diri dan pengorbanan.

Saya memang tidak memiliki uang atau deposit yang berjut-jut untuk membeli mobil, rumah, atau perhiasan. Atau saya memang tidak memliki kesempurnaan tubuh sebagaimana yang dicontohkan berbagai bintang iklan di tengah masyarakat.

Yang saya miliki hanyalah  keyakinan bahwa tauhid sebagai pandangan dunia unitas dapat menjadikan manusia sebagai makhluk merdeka, potensial tanpa batas yang bergerak dengan keindahan-Nya (Jamal) dan keagungan-Nya (Jalal) menuju kesempurnaan yang hakiki dan abadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s