INI MAHARKU, MANA MAHARMU?


oleh Ummi Rosita Kurnia Sari pada 01 November 2011 jam 13:55

“Aku ini bukan sedang dipasar dengan proses tawar-menawar. Pemuda dengan dialeknya mencoba merengkuh perjamuan ilahi. Dibalik tirai tersipu malu si gadis menanti pinangannya. Dengan kesanggupan hati dan niat tulus ilahi. Iringan untuk mengantar sang mempelai pada kesempurnaan ilahi”

Ritual ini bukan barter,bukan jual beli, bukan pula sebuah kado pada umumnya. Dimana ritual ini menjadi kancah realitas social, disebut tradisi paling tua dalam keluarga bahwa lelaki mengakui hak-hak perempuan untuk mendapatkan mahar. Dimana Si lelaki menyerahkan sesuatu yang bernilai kepada perempuan. Yang pada kesinambungannya si lelaki bertanggung jawab pada periode pasca pernikahan.Karena mahar dalam islam bukan sekedar ritual yang diyakini secara turun-temurun karena mahar memiliki makna filosofi tertentu.
Mari kita berjalan-jalan dengan telusuri alur kisah mengenai makna mahar, mungkin bisa juga sebagai inspirasi perempuan dalam menentukan maharnya.

Kata orang jawa “wani piro ? “ dalam keterkaitan mahar saya menggambarkan sebuah tawaran pihak perempuan kepada si lelaki. Mengukur seberapa besar kemampuan lelaki untuk mendapatkan perempuan. Jika kita contohkan berupa nilai mata uang mungkin dilihat dari berapa jumlah nominal siapa yang paling banyak nominalnya maka dia yang akan dapat. Tetapi persoalanya dalam penentuan mahar yang menentukan adalah si perempuan itu sendiri bukan ayah,ibu ataupun saudara-saudara yang lain. Misal Jika yang berkehendak adalah ayah menentukan mahar senilai uang Rp. 30jt yang memaknai sebagai imbalan kepada orang tua karena telah merawat anak gadisnya, berarti pada posisi ini si perempuan sama sekali tidak memiliki kewenangan hak menentukan mahar. Tolok ukur mahar bersifat matrealistis dengan seberapa banyak nominal, bahkan bisa jadi mahar tersebut menjadi beban bagi si lelaki. Kasihan si perempuan posisi ini karena bisa dibilang sangat rendah dan hina, karena sebagai umpan orang tua demi kepentingan orang tua pula. Dimana tidak didengar lagi permintaan bagi si perempuan.
Tertulis dalam ayat Al-Qura’an Qs. An-Nisa : 4 , yang menjelaskan bahwa pihak lelaki memberikan perempuan mahar sebagi sebuah pemberian yang spontan “dengan sebuah kerelaan” tanpa ada beban bagi si lelaki dalam memberikan mahar. Bisa diartikan dengan keikhlasan si lelaki dan keridhoannya dalam memberikan mahar menuju pernikahan suci.
Janagan sampai terjadi si lelaki sangggup menuruti permintaan pihak perempuan, tetapi si lelaki tidak ada kerelaan didalamnya sehingga pemberian mahar dilakukan karena terpaksa dan tidak ikhlas. Pertanyaanya apakah hal tersebut sebagai jaminan mahar kepada si perempuan? Secara lahiriyah mungkin mereka terima hal itu, namun manusia tidak terlepas pada sisi batiniyahnya jika dilakukan terpaksa pasti selalu timbul kegelisahan,ketidakridoan,dan mempengaruhi tujuan daripada pernikahan.

Contoh realita mahar pada sebagaian masyarakat pada umumnya yakni “seperangkat alat sholat” mengapa hal demikian menjadi rutinitas secara umum? Yang kita ingin tau apa makna dari mahar tersebut? Ada pula untuk kita perhatikan ketika calon mempelai laik-laki memberikan mahar uang senilai Rp. 77777 yang dikaitan dengan tanggal perinakahnnya misal, padahal jika kita tau apakah ada nominal uang yang hanya Rp.7 ? sebenarnya apa yang menjadi maksud pemberian mahar? Apakah hanya sekedar popularitas dan membangun image yang “nyleneh” dalam bahsa jawanya?. Atau tidak demikian?

Kemudian fenomena yang terjadi ketika 2 insan ilahi yang ingin menuntaskan separuh agamanya dengan jalan melakukan pernikahan tetapi memiliki kendala persoalan mahar.
Sebuah kisah pada jaman Nabi Suci s.a.w , Ada seorang perempuan yang meminta dirinya untuk dinikahi nabi. Respon nabi diam dan tak mengatakan apapun, kemudian salah seorang sahabat mengatakan “jika nabi tidak siap biar aku yang menikahinya”. Tanya nabi “jaminan apa yang hendak kau berikan kepada perempuan itu?” sahut sahabat “aku tak punya apa-apa”. Sampai-sampai pada akhirnya nabi menyuruh sahabat pulang kerumah untuk mencari sesuatu untuk dijadikan mahar. Singkat cerita sahabat tersebut memang benar-benar tidak memiliki apapun. Pada akhirnya hanya hafalan sedikit ayat Al-Quran yang dipunyai sahabat dan kata nabi hafalan sekaligus mengajarkan Al-Quran kepada si perempuan itu sebagi mahar kepada si perempuan. Bisa kita ketahui dalam kisah ini bahwa mahar bukan hanya dipahami secara wujud material melainkan mahar pun bisa berbentuk non material. Perlu diketahui bahwa tidak memiliki sesuatu yang materi bukan pengahalang jalanya pemberian mahar dan kelangsungan pernikahanJ

Bagaimana dengan mahar yang diberikan Mustafa Cahmran kepada Gadeh , berupa sebatang lilin kecil. Dengan kerelaanya memberikan hadiah tersebut, sampai Gadeh sendiri heran akan maharnya.Padahal Gadeh dikatakan keluarga terpandang, pada saat pernikahannya mendapat mahar berupa sebatang lilin kecil? Jika hanya dipandang sebagai mana materi mungkin tidak berarti apa-apa bagi kelangsungan jaminan kebutuhan si perempuan. Dan sekedar formalitas pada umumnya yang memberikan mahar yang memiliki bentuk. Tetapi dibalik makna symbol lilin tersebut dalam novel mustafa chamran adalah si lelaki ini menyampaikan pesannya bahwa sekalipun lilin dengan cahayanya dia mampu menunjuk beda gelap dan terang atau kebenaran dan kebatilan sebagai penuntun jalan. Ini hanya sebagian kisah tergantung bagaimana kita memaknainya, tentunya peran si lelaki juga mempengaruhi mahar, bagaimana tidak si lelaki pasti juga memiliki pijakan bagaimana membawa si perempuan dalam tujuan hidupnya.

Pada kesimpulannya berdasarkan refrensi buku Hak-Hak Wanita Dalam Islam karya Murtdha Mutahhari dan perenungan saya beberapa minggu lalu, pada pembahasan makna mahar yang disinggung Islam bahwa mahar adalah suatu hadiah yang diberikan kepada perempuan dari si lelaki dengan suka rela, tanpa memberatkan si lelaki yang kemudian bertujuan menjadi jaminan mejaga dan menjunjung derajat si perempuan. Tetapi makna jaminan itu sendiri menurut saya bukan berarti berupa wujud materi saja melainkan non material pun jadi. Non material ini bisa berupa kesanggupan,kemampuan,talenta,hal-hal yang bersifat positif yang dijarkan si lelaki kepada perempuan. Adalah sebagai symbol ketika mahar berujudkan sesuatu benda misalnya yang memilki nilai atau makna tertentu yang menjadi tujuan pemberian mahar yang bernilai. Kembalikan lagi pada siapa yang kan kita menjalin hubungan pernikahan, tentu berdasarkan lelaki yang benar-benar menjamin pula bagi si perempuan. Mahar yang terindah adalah ketika si lelaki mampu membimbing,mengarahkan,mengajarkan dan menjaga si perempuan dengan ilmu pengetahuannya, maka itu merupakan suatu jaminan kehormatan bagi si perempuan. Karena perlu diketahui ilmulah yang akan menjunjung martabat seseorang. Tentunnya ilmu yang ditawarkan oleh Islam sebagai agama yang sempurna. Orang berilmulah yang dengan sendirinya mampu mendatangkan materi untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang.

Refrensi buku: HAK-HAK PEREMPUAN DALAM ISLAM “Murtadadha Mutahhari “
Ummi Rosita Kurnia Sari
Pelajar Pesantren Murtadha Mutahhari
Rausyan Fikr Institut
Jogjakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s